Celotehku disamping merapi
New Selo 2009 Mei 08Malam 08.30 udara begitu dingin
Kaki – kaki pendaki dari penjuru dunia bersatu
Sementara aku yang belum bisa menyesuaikan
Terkapar lemas direrumputan
Dengan sabar, sahabatku selalu memotivasi aku
Perlahan kami tapaki lintasan merapi
Sepuluh- lima langkah kami istirahat
Tak terhitung berapa kali aku hampir putus asa
Merapi, disela – sela alang – alangmu aku merasa lelah
Aku sungguh merasa lemah saat itu
Hingga aku pinjam Oksigen-mu yang tipis
Sementara jalan terus saja menanjak, menantangku
Hampir separuh jalan aku tertatih lesu
Hembusan jiwa semangat saudaraku
Merasuk pula dihatiku dengan tiba – tiba
Aku mulai bisa menyesuaikan dengan dinginmu
Semakin tinggi – Oksigenmu semakin tipis - Semakin dingin
Lampu – lampu dikaki – kaki merapi yang kokoh – Bertambah
Sinar matahari malam menemani kami sepanjang langkah
Sewaktu kami merasa lelah – Kami terlelap seadanya
Beralas matras – Terbungkus sarung – Berselimut mantel
Menjelang pagi kami berlalu kembali
Melewati bebatuan beraneka bentuk – beraneka rasa
Terus dan terus - perlahan – lahan diiringi mimpi
Aku semakin terobsesi – jalanpun kami memilih
Memilih yang kami anggap terbaik
Entah yang lain – apa yang mereka pikirkan
Menjelang pagi – Lampu keabadian malam – Mulai terpejam
Kami butuh seberkasa cahaya senter
Ternyata pilihan kami sedikit keliru
Kami harus melewati sedikit tebing batu
Tiga banding satu, temanku menasehati aku
Terus dan terus – Akhirnya kami lalui itu
Akhirnya kami – Menginjakkan kaki di Merapi
Akhirnya kami – Bebaskan mimpi
Akhirnya kami – Melihat betapa Indahnya alam
Akhirnya – Hari itu, Tanggal Mei 2009 09 – 05.30
Mengagumi – Menjelajahi – Menikmati – Ciptaan Tuhan
Keindahan – Kedamaian – Kepusan – Keagungan Tuhan
Aku ingin Belajar dari alam
Aku Ingin Menjadi Manusia yang Cerdas karena didikan alam
Aku Ingin Menciptakan sejarah
Begitulah Kehidupan – Itulah kenapa aku mencintai alam
Kisah Merapi – Celotahku dikedamaian.
Purbalingga, 10 Mei 2009
Cahranduwe
Khasan
Khasan.puluk@yahoo.co.id